Temu Kerja Pengelola Program GENRE dan SAKA KENCANA Kalimantan Barat

TEMU KERJA - Temu kerja dan musyawarah daerah pengelola program genre dan saka kencana Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Kamis (27/2)

TEMU KERJA – Temu kerja dan musyawarah daerah pengelola program genre dan saka kencana Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Kamis (27/2)

Survei Kinerja Akuntabilitas Program (SKAP), angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) di Kalbar mengalami kenaikan dari 16,1 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2019. Generasi Berencana (GenRe) Kalbar pun didorong untuk menciptakan inovasi program guna menekan angka KTD.

Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalbar, Abdul Rahman mengatakan, remaja merupakan bagian penting dari Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

“Di era milenial ini, pelaksanaan program BKKBN menghadapi tantangan yang cukup besar. GenRe harus bisa melakukan inovasi, agar bisa menurunkan angka kehamilan yang tidak diinginkan,” kata Abdul Rahman usai Temu Kerja dan Musyawarah Daerah Pengelola Program GenRe dan Saka Kencana Kalbar, Kamis (27/2).

Rahman mengungkapkan, kegiatan ini merupakan upaya untuk mengevaluasi hasil SKAP 2019 yang menunjukan bahwa ada 63 dari 1.000 perempuan pada rentang usia 15 -19 tahun telah melahirkan anak pertamanya. Di sisi lain, pernikahan usia muda, atau pernikahan dini masih banyak dilakukan di berbagai daerah di Provinsi Kalbar.

Selama ini remaja telah ikut terlibat dalam program KKBPK sejak tahun 2005 sebagai respons atas komitmen untuk memperhatikan kesehatan dan hak-hak reproduksi. Pada 2007 mulai dibentuk Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR).

“Namanya kemudian berkembang menjadi PIK Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M) dan sekarang menjadi PIK Remaja dalam rangka pembinaan ketahanan remaja sebagai bagian dari upaya pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga,” jelasnya.

Ia menyampaikan PIK Remaja dibentuk sebagai wadah kegiatan dari remaja, oleh remaja dan untuk remaja (youth center) dan layanan ramah remaja (youth friendly services). PIK Remaja mencetak pendidik sebaya (peer educator) dan konselor sebaya (peer counselor) untuk meminimalisir pengaruh negatif kelompok sebaya dan menjadikan kelompok sebaya sebagai sumber informasi yang benar.

Sementara, Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wadah kegiatan orang tua yang memiliki remaja, didesain untuk menciptakan keluarga sebagai lingkungan yang mampu mendukung dan mengarahkan tumbuh kembang remaja. Hasil kajian menunjukkan bahwa kelompok sebaya dan orang tua (terutama ibu) menjadi tempat paling nyaman bagi remaja untuk berdiskusi tentang kesehatan reproduksi yang dialaminya.

“62 persen remaja perempuan dan 51 persen remaja laki-laki berdiskusi kesehatan reproduksi dengan temannya, dan 53 persen remaja perempuan serta 11 persen remaja laki-laki berdiskusi kespro dengan ibunya (SDKI, 2017),” jelasnya.

Dikatakannya, pembinaan ketahanan remaja dilakukan dengan memberikan akses informasi, pendidikan, konseling, dam pelayanan tentang kehidupan berkeluarga. Outcome dari pembinaan ketahanan remaja adalah terbentuknya generasi berencana, yaitu remaja yang memiliki perencanaan dalam mempersiapkan dan melewati transisi kehidupan remaja dengan mempraktikkan hidup bersih dan sehat, melanjutkan pendidikan, memulai berkarir, menjadi anggota masyarakat yang baik, serta membangun keluarga yang berkualitas.

Pembinaan ketahanan remaja diperlukan karena kondisi remaja saat ini bukan tanpa tantangan. Masih ada permasalahan yang mengancam remaja, terutama yang terkait dengan kesehatan reproduksi dan gizi yang akan berdampak pada kualitasnya sebagai aktor pembangunan dan kesiapannya dalam membangun keluarga.

“Pubertas atau kematangan seksual yang semakin dini (aspek internal) dan aksesibilitas terhadap berbagai media serta pengaruh negatif sebaya (aspek eksternal) menjadikan remaja rentan terhadap perilaku seksual berisiko,” ungkap Rahman.

Hal tersebut berakibat pada remaja menjadi rentan mengalami kehamilan di usia dini, kehamilan di luar nikah, kehamilan tidak diinginkan, dan terinfeksi penyakit menular seksual hingga aborsi yang tidak aman. Pada aspek ketahanan keluarga, berbagai data dan kajian menunjukkan bahwa keluarga yang dibangun di usia muda tanpa kesiapan akan rentan terhadap retaknya hubungan rumah tangga, memicu pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga dan berujung pada perceraian.

“Perlu upaya keras dan sinergi untuk menjadikan remaja di Provinsi Kalimantan Barat menjadi generasi yang berkarakter dan mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Direktur Bina Ketahanan Remaja (Hanrem) BKKBN RI, Eka Sulistya mengatakan kegiatan ini seirama dengan program BKKBN RI. Karena saat ini BKKBN sedang melakukan rebranding. Pasalnya ketika dilihat saat ini remaja tidak terhubung dengan BKKBN.

Remaja pada beberapa waktu lalu dan remaja saat ini menurutnya sangat berbeda. Hal tersebut yang mendasari BKKBN melakukan rebranding. Sehingga BKKBN bisa diterima di tengah generasi milenial saat ini.

“Genre harus bisa menyebarkan virus generasi berencana, sehingga bisa menjadi manusia bermanfaat,” ucap Eka Sulistya.

Ia menambahkan, program-program BKKBN akan menyesuaikan pada pembangunan SDM tidak hanya memperhatikan 1.000 hari pertama kehidupan. Pembangunan SDM harus dimulai jauh sebelum pernikahan. Artinya jauh sebelum pernikahan SDM harus dipersiapkan secara matang.

Eka berharap ke depan Genre tidak hanya berbicara pada kesehatan reproduksi, namun juga lebih fokus pada pembentukan SDM unggul.

“Anak muda harus memiliki inovasi untuk pengembangan program,” pungkasnya.

 

Sumber: suarapemredkalbar.com,
Kontributor: dina