Tekan Baby Boom di Kalbar selama masa pandemi Covid-19

Tekan Baby Boom di Kalbar selama masa pandemi Covid-19
Tekan Baby Boom di Kalbar selama masa pandemi Covid-19

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan Provinsi Kalimantan Barat, Tenny Calvenny Soriton mengatakan sampai saat ini pihaknya masih melakukan pendataan angka kehamilan dimasa pandemi covid-19. Dari hasil beberapa laporan yang telah ia terima dari penyuluh KB di lapangan, belum tampak terjadinya peningkatan kehamilan di Kalbar.

“Sampai saat ini saya masih menunggu laporan resmi soal angka kehamilan yang terjadi di Kalbar selama masa pandemi covid 19. Antisipasi baby boom, pasokan alat kontrasepsi jangan sampai kosong,” ungkap kepala BKKBN Kalbar, Tenny Calvenny Soriton, Jumat (5/6).

Dijelaskan dia, informasi terjadinya peningkatan kehamilan dibeberapa daerah, jelas Tenny, datanya belum sahih. Sehingga sampel-sampel data yang belum menjadi satu belum bisa dikatakan terdapat peningkatan kehamilan dimasa pandemi.

Namun ia mengakui, besar kemungkinan terjadinya kehamilan dimasa covid 19 ini. Itu karena aturan pemerintah yang meminta untuk masyarakat tetap di rumah selama penanganan covid dilakukan pemerintah.

Sebagai antisipasi baby boom. BKKBN Kalbar sudah melakukan upaya, seperti mendistribusikan alat kontrasepsi di fasilitas kesehatan yang ada di 14 kabupaten kota di Kalbar. Sehingga ia pastikan di faskes keberadaan alkon tidak terjadi kekosongan.

Para penyuluh KB di 14 Kabupaten Kota juga diminta Tenny melakukan jemput bola dalam pelayanan. Disana, para penyuluh KB mendistribusikan alat kontrasepsi seklaigus pelayanan ke rumah-rumah sasar.Penyuluh KB juga diminta mensosialisasikan informasi tentang covid-19.

Kemudian kata Tenyy, media sosial juga menjadi senjata bagi petugas KB dalam mensosialisasikan penekanan angka kehamilan di masa covid 19. Melihat yang sudah dikerjakan BKKBN, ia memperkirakan baby bom tidak bakalan terjadi di Kalbar.

Ia juga mengingatkan bagi penyuluh dalam menjalankan tugasnya di lapangan, tetap mengikuti protap covid. Yaitu menggunakan masker, berbekal handsanitizer dan selalu rajin mencuci tangan. (sumber: pontianakpost.co.id)

Bersumber dari suaramuslim.net, Indonesia mengalami persoalan serius terkait laju pertumbuhan penduduk. Dengan laju pertumbuhan 1,49% saat ini, penduduk bertambah 4,5 juta orang setiap tahun. Pertambahan jumlah penduduk itu sebanyak satu negara Singapura.

Sejak lima tahun lalu negeri ini sudah bertekad menekan laju pertumbuhan penduduk pada angka 1,1%. Salah satu cara ialah menggelorakan kembali program keluarga berencana. Di berbagai daerah dibangun kampung KB.

Namun, sejak diberlakukannya social distancing dan physical distancing di Indonesia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) melaporkan adanya penurunan angka pemasangan alat kontrasepsi. Angka penurunan mencapai setidaknya hampir 50%.

Hal itu membuat kekhawatiran terhadap potensi angka kehamilan yang tinggi pasca pandemi corona akan menjadi fenomena baby boomers. Penurunan bukan hanya terjadi pada jumlah peserta KB tapi juga aktivitas kelompok kegiatan dan mekanisme operasional.

Ditambah juga saat ini pemerintah dengan melakukan perampingan anggaran di sejumlah kementerian untuk fokus pada penanganan Covid-19. Dikutip dari popmama, hal itu tentu berimbas pada pemangkasan anggaran BKKBN mencapai Rp408,6 miliar.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, mengatakan pemangkasan anggaran tersebut berdampak pada pelayanan program KB yang berpotensi pada meningkatnya angka kematian ibu dan bayi serta jumlah stunting pada anak.

Angka penurunan pemasangan alat kontransepsi disebabkan pelayanan metode pemasangan alat kontrasepsi sangat intens kontak langsung dengan pengguna. Sedangkan pemerintah saat ini sedang memberlakukan peraturan social distancing dan physical distancing untuk menekan jumlah penyebaran virus corona.

Para peserta KB pun khawatir untuk berkonsultasi apalagi melakukan kontak dengan petugas. Menurut Sekretaris Jenderal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Budi Wiweko, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Beberapa di antaranya:

1. Mengganti kontrasepsi jangka pendek ke jangka panjang

Alat kontrasepsi jangka pendek berupa pil atau kondom sebaiknya diganti dengan alat kontrasepsi jangka panjang, seperti suntik implan atau IUD.

Suntik implan bisa bertahan hingga 3 tahun sedangkan IUP atau spiral bertahan hingga 5 tahun.

2. Pilih alat kontrasepsi mandiri

Jika tidak ingin beralih ke alat kontrasepsi jangka panjang, dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi yang dapat dilakukan sendiri. Contohnya adalah pil KB. Dengan cara ini, penambahan tingkat kehamilan bisa ditekan tanpa harus melakukan kontak dengan petugas medis yang menangani.

3. Manfaatkan edukasi melalui telekomunikasi atau telemedis

Hal yang bisa dilakukan berikutnya adalah memanfaatkan edukasi melalui telekomunikasi atau telemedis untuk menyediakan jasa konsultasi. Saat ini mengurangi aktivitas berkumpul di antara kerumunan orang adalah pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan diri.

Melakukan upaya program KB secara mandiri maupun mengurangi intensitas bertemu dengan petugas saat ini sangatlah penting. Mengingat dengan kondisi rumah sakit yang saat ini diprioritaskan untuk menangani kasus corona. Kondisi ibu hamil di tengah pandemi corona ini juga menjadi berisiko.

Recommended For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *