Resiko Aborsi Pada Remaja

No comment 1898 views

Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja dapat memicu terjadinya pengguguran kandungan atau aborsi. Terlebih jika kehamilan mendapatkan penolakan dari pihak orangtua, maka remaja akan lebih nekat untuk melakukan aborsi. Secara medis, aborsi adalah gugurnya kehamilan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu, yaitu sebelum janin dapat hidup di luar kandungan secara mandiri.

Aborsi yang terjadi di kalangan remaja biasanya abortus provokatus (buatan) criminalis yaitu pengguguran kandungan yang dengan sengaja dilakukan tanpa alasan  kesehatan (medis). Pada masa sekarang ini banyak tindakan aborsi yang tidak aman dilakukan dan banyak juga yang tidak dilaporkan, kecuali setelah terjadi komplikasi.

Tindakan aborsi memiliki resiko cukup tinggi, terutama apabila dilakukan tidak sesuai standar profesi medis. Tindakan aborsi yang berbahaya biasanya menggunakan ramuan, manipulasi fisik, atau menggunakan alat bantu yang tidak steril. Ramuan penggugur kandungan misalanya ramuan peluruh rahim. Manipulasi fisik yaitu menggunakan pijatan dan menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril yang berakibat negatif pada rahim. Tindakan aborsi seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan keamanannya dan mengandung resiko yang sangat tinggi.

Secara hukum, pengguguran kandungan tanpa alasan medis dilarang keras. Tindakan yang berhubungan dengan pelaksanaan aborsi meliputi melakukan, menolong dan menganjurkan aborsi. Salah satu yang mendasari hukum tersebut karena aborsi memiliki resiko yang sangat berbahaya diantaranya:

Resiko kesehatan dan keselamatan fisik

  • Kematian mendadak karena perdarahan hebat atau karena pembiusan yang gagal.
  • Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan.
  • Rahim sobek.
  • Kerusakan leher rahim yang dapat merusak keturunan (cacat) pada anak berikutnya.
  • Kanker payudara  karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita.
  • Kanker indung telur.
  • Kanker leher rahim.
  • Kanker hati.
  • Kelainan pada plasenta (ari-ari).
  • Menjadi mandul (tidak mampu memiliki keturunan lagi).
  • Infeksi rongga panggul dan infeksi pada lapisan rahim.

Resiko psikologis

  • Perasaan sedih karena kehilangan bayi.
  • Beban batin akibat timbulnya perasaan bersalah.
  • Penyesalan yang dapat mengakibatkan depresi.
  • Kehilangan harga diri.
  • Trauma berhubungan seksual.
  • Hilangnya kepercayaan diri.

Resiko psikososial

  • Diasingkan oleh masyarakat.
  • Tekanan dari masyarakat tentang keberadaannya.
  • Dikucilkan dari keluarga.
  • Mendapat celaan dari orang-orang sekitar.

Resiko masa depan remaja dan janin yang dikandungnya.

  • Timbulnya gangguan kesuburan atau infertilitas.
  • Menjalani hidup di penjara beberapa tahun jika ketahuan melakukan aborsi.
  • Masa depan yang suram.
  • Masa depan janin itu terputus seketika saat aborsi itu dilakukan.

 

By: Siti Masdah (Wakil Ketua Koalisi Muda Kependudukan Kalimantan Barat).