Remaja Kalimantan Barat Katakan Tidak Pada Pernikahan Dini

Masa remaja (10-19 tahun) merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dimana terjadi perubahan fisik, mental, dan psikososial yang cepat dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan selanjutnya. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2012 menunjukkan hasil yang sangat mencengangkan. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan Age Spesific Fertility Rate (ASFR) usia 15-19 tahun tertinggi di Indonesia, yaitu 104 per 1000 kelahiran penduduk, sementara nasional rata-rata mencapai 48. Hal ini akan berdampak buruk terhadap kualitas penduduk Kalimantan Barat, karena kehamilan masih berbahaya untuk usia remaja.

Kehamilan selama ini dianggap menjadi sesuatu yang didambakan oleh para wanita. Akan tetapi dapat menjadi malapetaka jika hal ini terjadi di usia remaja, terutama bagi remaja yang belum menikah. Banyak alasan  mengapa kehamilan pada usia remaja dapat menimbulkan resiko, diantaranya rahim belum siap mendukung kehamilan, sistem hormonal belum terkoordinasi dengan baik, dan kematangan psikologis untuk menghadapi proses persalinan yang traumatik dan untuk mengasuh anak/memelihara anak belum mencukupi.

Banyak hal yang menyebabkan terjadinya kehamilan tidak diinginkan pada remaja, diantaranya kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, faktor dari dalam diri remaja yang kurang memahami swadarmanya sebagai pelajar, faktor dari luar, pergaulan bebas tanpa kendali orangtua yang menyebabkan remaja merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkan, perkembangan teknologi media komunikasi yang semakin canggih yang memperbesar kemungkinan remaja mengakses apa saja termasuk hal-hal negatif. Banyak faktor yang mendorong tingginya pernikahan dini di Indonesia yaitu:

  1. Faktor sosial budaya yang beranggapan perempuan tidak laku jika menikah diatas usia 20 tahun.
  2. Persoalan ekonomi keluarga, orangtua menganggap jika anak gadisnya telah ada yang melamar dan mengajak menikah, setidaknya diharapkan akan mandiri tidak lagi bergantung kepada orangtua, karena sudah ada suami yang menafkahi. Sekalipun usia anak perempuan belum mecapai usia kematangan, baik secara fisik terlebih mental. Sayangnya, kadang para gadis ini menikah dengan pria yang berstatus ekonomi kurang lebih sama sehingga menimbulkan masalah yaitu menambah angka kemiskinan baru.
  3. Lingkungan dan pergaulan. Tidak bisa kita pungkiri, masih ada perkawinan usia muda yang terjadi karena hamil di masa pacaran. Hal ini bahkan dianggap menjadi hal yang biasa.
  4. Pendidikan. Remaja, khususnya wanita, mempunyai kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dari pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan.
  5. Ketakutan orangtua terhadap perkembangan teknologi dan informasi. Sehingga ia merasa takut jika anak salah pergaulan sehingga meminta anak untuk menikah.

Pernikahan dini dapat merusak remaja Indonesia dalam jangka pendek dan jangka panjang. Banyak sekali resiko yang ditimbulkan jika kehamilan terjadi di usia remaja diantaranya:

Resiko sosial budaya

Masa remaja merupakan masa untuk mencari identitas diri dan membutuhkan pergaulan dengan teman-teman sebaya. Pernikahan dini secara sosial akan menjadi bahan pembicaraan teman-teman remaja dan masyarakat. Kesempatan bergaul dengan teman-teman remaja hilang, sehingga  remaja kurang dapat membicarakan masalah-masalah yang dihadapinya. Mereka memasuki lingkungan orang dewasa dan keluarga baru serta asing bagi mereka. Bila mereka kurang dapat menyesuaikan diri, akan timbul berbagai ketegangan dalam hubungan keluarga dan masyarakat.

Resiko kesehatan

Resiko kesehatan yang sangat ditakutkan jika kehamilan terjadi di usia remaja terjadi pada masa kehamilan dan persalinan. Kehamilan di usia remaja mempunyai dampak negatif terhadap kesejahteraan remaja. Banyak resiko yang dapat ditimbulkan jika kehamilan terjadi di kalangan remaja (kurang dari 20 tahun) diantaranya: kurang darah (anemia) yang dapat  mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat dan kelahiran prematur. Kurang gizi yang mengakibatkan perkembangan biologis dan kecerdasan janin terhambat sehingga terlahir dengan bayi berat lahir rendah. Penyulit pada saat persalinan berupa persalinan lama dan perdarahan. Pre-eklamsia dan eklamsia dapat  membawa maut bagi ibu dan bayi. Ketidakseimbangan besar bayi dengan lebar panggul yang menyebabkan macetnya persalinan, bila tidak diakhiri dengan operasi Caesar, maka keadaan ini akan menyebabkan kematian ibu maupun janinya. Pasangan yang kurang siap untuk menerima kehamilan cenderung untuk mencoba melakukan pengguguran kandungan (aborsi) yang berakibat kematian bagi wanita. Pada wanita yang menikah dibawah usia 20 trahun memiliki resiko dua kali lipat untuk mendapatkan kanker servik dibandingkan dengan wanita yang menikah lebih tua.

Resiko kejiwaan

Perkawinan merupakan masa peralihan dalam kehidupan seseorang oleh karenanya mengandung stres. Untuk itu, memasuki usia kehamilan diperlukan kesiapan mental dari suami dan istri, yaitu ia beralih dari masa hidup sendiri ke masa hidup bersama dan berkeluarga. Kesiapan kematangan mental biasanya belum terjadi sebelum usia 20 tahun. Pengalaman hidup juga belum mantap di usia ini. Apabila wanita pada masa hamil usia ini, maka remaja cenderung tidak menghendaki kehamilan sehingga kurang memberikan perhatian pada kandungannya dan setelah melahirkan. Sehingga kadang kurang memberikan perhatian dan kasih sayang sehingga dianggap menambah beban. Sebagai akibat kurang matangnya kejiwaan dan emosi remaja, maka pernikahan akan menimbulkan perasaan gelisah, kadang-kadang curiga  dan pertengkaran suami istri sering terjadi ketika masa bulan madu telah berakhir.

Masalah akan bertambah rumit apabila pasangan terpaksa tinggal bersama orangtua dengan penghasilan yang kurang memadai. Tidak jarang pasangan akan mengalami ketidakharmonisan rumah tangga yang kadang berakhir dengan perceraian. Dalam kondisi ini, remaja wanita akan lebih menderita dibanding remaja pria.

Resiko masa depan remaja dan janin.

Kehamilan remaja dapat menyebabkan terganggunya perencanaan masa depan remaja misalnya kehamilan yang terjadi pada remaja sekolah, remaja akan terpaksa meninggalkan sekolah, hal ini berarti terhambat atau bahkan mungkin tidak tercapai cita-citanya. Kehamilan remaja kadang mengalami penolakan dari orangtua, sehingga orangtua kurang memberikan perhatian dan kasih sayang sehingga tumbuh dengan tanpa kasih sayang dan penolakan dari orangtua.

Bagi para remaja yang belum menikah, mari kita pikirkan kembali dampak yang akan kita hadapi ketika kita menikah di usia muda. Dan bagi kita yang sudah terlanjur menikah, saya mengajak untuk memeriksakan kehamilannya secara intensif, dengan harapkan kelainan atau penyulit yang akan terjadi dapat terdeteksi secara dini dan diobati serta persalinan dapat berjalan dengan lancar. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan yaitu menjadi orangtua yang tetap memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak. Anak merupakan aset yang sangat berharga dalam kehidupan orangtua, agama, bangsa dan negara. Sehingga kualitas anak akan menentukan bagaimana kualitas bangsa Indonesia ini di masa yang akan datang.

Remaja Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, yang sangat saya banggakan,  mari kita bangun bangsa ini mulai hari ini dengan salah satu langkah yaitu pendewasaan usia kehamilan, untuk menjadi bangsa maju dan penduduk yang sejahtera. Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa Indonesia. Berbagai upaya pencegahan bisa kita lakukan untuk penanggulangan resiko pernikahan dini, yaitu orangtua perlu menyadari bahwa pernikahan dini bagi anaknya penuh resiko yang membahayakan baik secara sosial, kejiwaan, kesehatan dan masa depan, sehingga orangtua perlu menghindarkan pernikahan dini bagi remaja.

Permerintah memiliki tugas untuk menggalakkan  Pendewasaan Usia Kehamilan (PUP) untuk meningkatkan rata-rata usia kawin pertama (UKP) wanita secara ideal, perempuan 20 tahun dan laki-laki 25 tahun. Tugas selanjutnya yang dibebankan kepada pemerintah yaitu menyampaikan informasi tentang hak-hak reproduksi remaja dan resiko pernikahan dini. Khusus remaja Kalimantan Barat, pemerintah telah menyediakan Koalisi Muda Kependudukan (KMK) dan Pusat Informasi Konseling (PIK) sebagai pusat informasi tentang kesehatan reproduksi remaja yang telah dibentuk di masing-masing kabupaten/kota dan perguruan tinggi.

Bagi remaja yang belum menikah menikah, kehamilan dapat dicegah dengan cara menghindari senggama. Akhirnya diharapkankan remaja mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang akan memberi bekal hidupnya di masa depan.

Banyak hal yang bisa kita lakukan teman di masa remaja sebelum kita memiliki pasangan hidup. Kehamilan di atas usia 20 tahun itu lebih indah dibandingkan dengan kehamilan di masa remaja yang penuh dengan problematika. Masa remaja itu sekali saja terjadi, maka dari itu, mari kita berkarya semaksimal mungkin untuk bangsa dan negara ini. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda yang termasuk didalamnya kita para remaja.

By: Siti Masdah (Wakil Ketua Koalisi Muda Kependudukan Kalimantan Barat)