Perencanaan Lima Transisi Kehidupan Remaja Jadi Kunci Persoalan Remaja

Zerokan Tiga Persoalan Remaja

Zerokan Tiga Persoalan Remaja

Direktur Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI, Eka Sulistia Edingsih berpesan agar para remaja Kalimantan Barat dapat merencanakan lima transisi kehidupan usia remaja. Apa yang dilakukan itu, dianggap mampu menekan tiga persoalan, yaitu menikah usia dini, seks bebas dan narkoba. Demikian disampaikan pada ratusan remaja GenRe yang hadir pada kegiatan HUT GenRe Kalbar ke tiga di halaman Stadion Sultan Syarif Abdurahman, Minggu (1/3).

“Forum GenRe Kalbar memasuki usia ke tiga. Saya tahu kalian sudah berjuang untuk menyebarkan virus GenRe Indonesia khususnya di Provinsi Kalbar. Semoga apa yang dilakukan ini bisa terus digencarkan,” kata Eka Sulistia Edingsih.

Ia melanjutkan, dalam pembangunan keluarga telah disepakati bahwa ayah dan ibu ikut serta dalam Keluarga Berencana. Sedangkan bagi para remaja masuk pada kategori Generasi Berencana. Dihadapan ratusan remaja itu, ia berpesan agar para remaja dapat merencanakan lima transisi kehidupan.

Lima transisi kehidupan itu adalah berperilaku hidup sehat, perencanaan pendidikan setinggi-tinggi mungkin, persiapan karir, persiapan pernikahan dan bersosialiasi di masyarakat. Apabila lima transisi kehidupan ini dijalankan para remaja, Eka meyakini mampu menekan tiga persoalan remaja. Yaitu menikah di usia dini, seks bebas dan narkoba.

Lima transisi kehidupan itu adalah berperilaku hidup sehat

Lima transisi kehidupan itu adalah berperilaku hidup sehat

Lebih dalam Eka menjelaskan lima transisi kehidupan bagi remaja. Seperti poin perencanaan pendidikan setinggi-tingginya, apabila dijalankan, remaja secara tidak langsung sudah menekan angka pernikahan usia dini. Dimana usia perempuan harus di atas 21 tahun dan laki-laki di atas 25 tahun. “Bagi perempuan bila sudah selesai di perguruan tinggi, umurnya kan di 22 tahun, tentu sudah melewati usai perkawinan,” katanya.

Kemudian lanjutnya menjelaskan, persiapan pernikahan, telah diatur bahwa untuk perempuan harus di atas 21 tahun. Pasalnya, ketika perempuan belum menginjak usia 21 tahun, posisi panggul belum mencapai 10 cm. Sedangkan diameter kepala bayi berada di angka 9,7 sampai 9,9 cm. “Bisa dibayangkan yang terjadi. Seorang perempuan yang masih di bawah 21 tahun ketika melahirkan panggulnya belum mampu mengeluarkan kepala bayi berdiameter 9,9 cm,” katanya.

Al hasil yang terjadi bisa operasi sesar. Atau yang tak diinginkan adalah pendarahan pada ibu bayi dengan akibat yang paling fatal adalah meninggalnya si ibu bayi. Dari lima hal tersebut, tentunya kesemua remaja mesti berperilaku hidup sehat.

perayaan HUT GenRe ke tiga di Kalbar

perayaan HUT GenRe ke tiga di Kalbar

Dalam upaya penurunan angka pernikahan usia dini, Kalbar sudah menunjukkan hal yang positif. Hasil survey di 2017 terdapat 104 dari seribu perempuan berusia 15-19 tahun pernah melahirkan. Hasil terbaru dari hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia menyatakan bahwa angka tersebut mengalami penurunan. Yaitu 68 dari seribu perempuan usia 15-19 tahun di Kalbar pernah melahirkan.

Di tempat sama, Kasubbid Bina Ketahanan Remaja BKKBN Kalbar menjelasakn bahwa kegiatan yang dilaksanakan ini merupakaan perayaan HUT GenRe ke tiga di Kalbar. Ada banyak rangkaian kegiatannya. Diantaranya senam dan flasmob GenRe, sapa remaja Kalbar oleh Direktur Ketahanan Remaja, lounching jingle GenRe Kalbar, GenRe games dan bagi-bagi doorprize. Dikegiatan ini, kurang lebih ada 500 remaja ikut serta. Mudah-mudahan dari mereka mampu menularkan pesan-pesan GenRe kepada teman-teman dilingkungannya.(iza, Pontianakpost.co.id)