Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak Sejak Dini

layak-anakPerwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, BKKBN Provinsi Kalimantan Barat – Keluarga menjadi pilar utama dalam mensejahterakan kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan katalain kesuksesan suatu negara tak lepas dari peran keluarga dalam lingkungan masyarakat dengan begitu arti penting fungsi keluarga merupakan salah satu jawaban terbaik untuk menjalani tantangan hidup kedepan yang semakin kompleks.

Peran BKKBN dianggap perlu untuk mengadvokasi, melayani masyarakat, membuka pikiran masyarakat akan pentingnya penanaman nilai-linai kehidupan berbangsa bagi anggota keluarga sejak dini, akan menjadikan keluarga sebagai wahana yang tanggu bagi terwujudnya keluarga yang berkualitas karena keluarga menjadi ujung tombak dalam upaya memantapkan ketahanan nasional dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Disinilah peran orang tua dalam keluarga dirasakan penting dalam memberikan pola asuh yang baik sesuai dengan perkembangan usia anak yang nantinya berpengaruh positif pada tumbuh kembang pribadi anak. Keluarga menjadi subjek pertama dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, gotong royong, saling asah, asih dan asuh serta mengenalkan nilai-nilai toleransi dan kerja keras.

Pengasuhan Anak Usia Dini

kewajiban dan tanggung jawab orang tua tentu bukan hanya mencarikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak saja tetapi harus lebih dilengkapi dengan memberikan pengasuhan, bimbingan, pendidikan dan juga pendampingan yang baik dan benar pada anak-anaknya.

Anak usia dini adalah anak yang berusia 0 sampai 6 tahun. Pada Usia ini merupakan usia yang strategis untuk meletakkan kerangka dasar bentuk dan pola kehidupan yang akan menyertainya sepanjang perkembangan kehidupannya. Bentuk pola asuh, bimbingan dan pendidikan yang diterimanya saat itu akan menjadi pijakan dan tuntunan mereka dalam berlaku dan bersikap dalam kehidupan selanjutnya dan pemeran utama dalam pembentukan ini adalah orang tua dan keluarga dekatnya, karena kehidupan dan keberadaan anak pada usia dini seperti ini hampir seratus persen masih berada di lingkungan orang tua dan keluarga.

Pada pertemuan Review Program BKKBN Provinsi Kalimantan Barat 6 – 8 Oktober 2015 dijelaskan oleh penyaji dari BP3MKB terkait peran BKKBN dalam melindungi hak-hak anak dalam arus globalisasi maka perlu peningkatan kualitas bangsa melalui pembinaan dan pengaturan keluarga yang terencana yang baik melalui Program-program Keluarga Berencana.

Dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, pada Pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Peran Aktif BKKBN dalam merencanakan, membina keluarga sejak masih dalam kandungan hingga lanjut usia, program-program seperti Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja dan Bina Keluarga Lansia perlu dikembangkan lagi dan dimantapkan agar tercipta keluarga yang harmonis di Indonesia.

Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan

  • Hak atas kelangsungan hidup dan tumbuh kembang;
  • Hak anak cacat untuk menikmati kehidupan penuh dan layak serta mendapat pelayanan khusus;
  • Hak untuk menikmati status kesehatan tertinggi dan memperoleh sarana perawatan penyakit dan pemulihan kesehatan;
  • Hak untuk memperoleh jaminan sosial;
  • Hak atas taraf hidup layak bagi pengembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial

Lingkungan dan Pengasuhan Alternatif

  • Hak untuk tidak dipisahkan dari orang tua terkecuali pemisahan tersebut merupakan kepentingan yang terbaik buat anak;
  • Hak untuk bersatu kembali dengan keluarga;
  • Orang tua/wali bertanggungjawab membina dan membesarkan mental;
  • Hak perlindungan khusus bagi anak yang kehilangan lingkungan keluarga.

Untuk terhindar dari masalah sosial yang kerap kita jumpai salah satunya ada Traficing yaitu sebuah bentuk perbudakan modern. Kebanyakan korban trafiking dirayu ke kota besar atau ke luar negeri dengan janji diberi pekerjaan menarik seperti pelayan, penjaga toko dan pekerja rumah tangga, tapi malah ditipu dan dipaksa ke dalam pekerjaan yang menyiksa atau bahkan prostitusi. Siapapun bisa menjadi korban trafiking.

Bantuk Trafiking di Kalimantan Barat antara lain untuk dijadikan pelacur, diperkerjakan dijermal, dijadikan pengemis, sebagai pembantu rumah tangga dengan jam kerja panjang, adopsi, pernikahan dengan laki-laki asing untuk tujuan ekspolitasi, pornografi, pengedar obat terlarang dan menjadi korban fedopilia.

Faktor yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi antar lain faktor kemiskinan, pendidikan renda, pengangguran, migrasi keluar desa dan keluar negeri, ketahanan keluarga yang rapuh, perbedaan gender, konsumerisme, meningkatnya permintaan pasar, pornografi, lemahnya penegakan hukum serta rendahnya kesadaran masyarakat.

Dalam mengantisipasi hal-hal tersebut langkah yang diambil dan rumuskan oleh BP3MKB Provinsi Kalimantan Barat antara lain:

Merumuskan Kebijakan diantaranya:

  • Mengoptimalkan Kebijakan Keluarga Berencana
  • Memfasilitasi Lintas Sektor, Profesi dan LSM untuk berperan aktif mendukung program Keluarga Berencana
  • Membuat Kebijakan yang berfokus pada pemenuhan dan melindungi hak-hak anak

Advokasi dan Sosialisasi Kebijakan antaralain:

  • Mensosialisasikan dan mengadvokasi Kebijakan Keluarga Berencana ke Semua Pihak
  • Menyampaikan dampak yang timbul akibat kegagalan program Keluarga Berencana
  • Membuat program-program inovatif sesuai dengan kearifan lokal
  • Membina peserta Keluarga Berencana untuk mendapatkan nilai-nilai positif.

Pembinaan yaitu:

  • Melakukan pembinaan dan pendampingan bagi Lintas Sektor, Profesi dan LSM serta Masyarakat dalam Program Keluarga Berencana
  • Memberikan masukan dan penghargaan bagi pemerhati program Keluarga Berencana
  • Memfasilitasi kerjasama antar lembaga baik pemerintah, swasta, lsm dan profesi yang berminat dalam program Keluarga Berencana

Minoting dan Evaluasi diantaranya:

  • Melakukan Monitoring ke tingkat Kabupaten Kota dalam pelaksanaan Keluarga Berencana dengan mitra kerja.
  • Memberikan masukan bagi instansi dan lembaga yang bergerak dalam bidang pelaksanaan program Keluarga Berencana
  • Melakukan kajian dan evaluasi kegiatan Keluarga Berencana demi perbaikan dan kesuksesan program Keluarga Berencana kedepannya.