Menepis Dampak Negatif Ibu Bekerja dengan Mengoptimalkan Peran Serta Ayah dalam Pengasuhan Anak

Oleh: Rindang Gunawati

Seiring dengan perubahan kondisi sosial masyarakat akibat adanya tuntutan pemenuhan kesejahteraan keluarga, maka terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada prosentase perempuan yang bekerja di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2012, prosentase perempuan yang bekerja dibanding perempuan yang mengurus rumah tangga secara total adalah 47,91% : 36,97% (BPS RI Sakernas 2012). Kondisi tersebut sedikit banyak akan berpengaruh pada peran perempuan dalam rumah tangga yang merupakan tonggak pencetak generasi penerus bangsa.

Menurut buku Pedoman Penasehatan Perkawinan Republik Indonesia (dalam Sudilah, 2000) dinyatakan bahwa sebagai seorang istri, perempuan mempunyai beberapa tugas, antara lain:

  1. Hormat dan patuh kepada suami sesuai dengan norma agama dan susila.
  2. Mengatur dan mengurus rumah tangga, menjaga keselamatan dan mewujudkan kesejahteraan keluarga.
  3. Memelihara dan mendidik anak.
  4. Memelihara dan menjaga kehormatan dan harta benda keluarga.
  5. Menerima dan menghormati pemberian suami serta mencukupkan nafkah yang diberikan dengan baik, hemat, cermat dan bijaksana.

Jika dicermati dari kelima poin tugas istri diatas, maka tidak satupun poin yang menyatakan bahwa perempuan harus bekerja dan memenuhi nafkah keluarga karena hal ini merupakan tugas utama suami sebagai kepala rumah tangga. Akan tetapi seiring dengan tuntutan pemenuhan kesejahteraan keluarga dan adanya gerakan emansipasi wanita, ternyata banyak perempuan yang mendapatkan peran tambahan sebagai pencari nafkah untuk membantu suami dalam mencukupkan nafkah untuk keluarganya. Bahkan dalam kondisi tertentu (contohnya suami sakit ataupun meninggal), perempuan merupakan tulang punggung keluarga yang harus menggantikan peran suami sebagai pencari nafkah keluarga.

Ada banyak faktor yang mendorong perempuan untuk bekerja, baik dari dalam diri maupun faktor diluar dirinya. Salah satu faktor dalam diri yang mendorong perempuan bekerja adalah tingkat pendidikan perempuan Indonesia yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini, terutama si daerah perkotaan, tidak jarang kita temukan perempuan yang berpendidikan sarjana bahkan pasca-sarjana dan doktoral yang dulunya hal tersebut merupakan kondisi yang sangat langka. Dengan makin tingginya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh perempuan, maka angka probabilitas perempuan untuk bekerja juga makin tinggi. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin terbuka. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi meningkatnya prosentase wanita bekerja di Indonesia. Bahkan saat ini banyak posisi strategis dalam dunia pekerjaan dipegang oleh perempuan, contohnya Menteri Keuangan (Era Presiden SBY) Ibu Sri Mulyani, Direktur Pertamina Ibu Karen, dan Menteri Kelautan dan Perikanan saat ini Ibu Susi Pudjiastuti dan masih banyak posisi strategis lain yang dipegang oleh perempuan.

Adapun salah satu faktor diluar diri perempuan yang mendorong perempuan sebagai seorang istri harus bekerja adalah tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat akibat adanya tanggungan keluarga. Banyaknya anggota keluarga yang menjadi tanggungan akhirnya mendorong perempuan untuk bekerja membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga. Seperti kita ketahui bersama bahwa biaya hidup saat ini cukup tinggi, baik biaya sandang, pangan, papan, kesehatan, dan biaya pendidikan, belum lagi disaat BBM naik seperti saat ini. 

Fenomena wanita bekerja sebenarnya membawa dampak positif bagi perkembangan perekonomian bangsa, karena perempuan turut aktif menyumbangkan fikiran dan tenaganya dalam beberapa sektor pembangunan. Akan tetapi disisi lain timbul masalah dalam pembangunan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Ibu yang bekerja berpotensi mengalami konflik peran ganda, dimana kondisi menempatkan mereka pada kesulitan dalam mengatur waktu dan dirinya dalam pelaksanaan tugas sebagai ibu rumah tangga yang sekaligus sebagai ibu bekerja, akhirnya perkembangan anak terabaikan.

Menurut beberapa kajian yang telah dilakukan, baik di Indonesia maupun di luar negeri, ternyata dampak negatif yang diakibatkan oleh ibu bekerja adalah kurangya waktu kebersamaan antara orangtua dan anak yang menyebabkan anak cenderung mengalami gangguan kecemasan (cemas berpisah), anak cenderung merasa diabaikan dan mendorong anak untuk mencari perhatian di luar rumah yang akhirnya menyebabkan anak  terjerumus dalam kenakalan remaja. Selain itu karena kurangnya intensitas perhatian ibu ke anak akibat adanya kesibukan dan kelelahan yang dialami Ibu dalam bekerja (baik pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga maupun sebagai Pekerja Profesional), menjadikan anak cenderung memiliki prestasi akademik yang kurang baik, meskipun hal ini memang perlu membutuhkan kajian lebih kanjut.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi dampak negatif tersebut adalah melibatkan peran ayah dalam pengasuhan anak. Kenapa demikian? Karena meskipun prosentase perempuan bekerja meningkat dari tahun ke tahun, tapi tugas pengasuhan utama anak adalah tetap pada ibunya, meskipun ibunya juga berperan sebagai tulang punggung keluarga.

Mengapa harus ayah, bukan nenek atau keluarga lainnya? Karena ternyata kelekatan hubungan emosional serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayah dapat berpengaruh pada perkembangan kognitif dan kompetensi sosial anak (Hernandez & Brown dalam Farida dkk, 2011). Anak yang memiliki perkembangan kognitif yang baik akan cenderung memiliki prestasi akademik yang baik, dan demikian sebaliknya. Selain itu, dalam hal perkembangan sosial, anak yang memiliki kelekatan hubungan emosional dengan ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Adapun cara yang dapat dilakukan oleh ayah dalam pengasuhan anak antara lain:

  1. Terlibat secara aktif dalam aktivitas yang dilakukan anak, misalnya makan bersama keluarga, menonton TV bersama dengan membantu anak memahami acara atau hal yang ditonton yang belum dipahami oleh anak, bermain dengan anak pada saat libur weekend dengan permainan-permainan sederhana yang mengutamakan komunikasi dengan anak.
  2. Terlibat secara aktif dalam aktivitas belajar anak, misalnya meluangkan waktu untuk menemani anak belajar sepulang kerja.
  3. Aktif berkomunikasi dengan anak pada saat anak diluar rumah, baik melalui SMS, BBM, Whatsapp, We Chat dsb.
  4. Menjalin komunikasi dengan teman-teman anak sehingga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si anak, temannya dapat menyampaikan kepada kita sebagai ayah (orangtua) anak. Menjadikan teman/sahabat anak sebagai teman/sahabat kita dapat mengurangi resiko anak terjerumus pada kenakalan remaja.
  5. Mengerti dan mencukupi kebutuhan anak (tidak harus memberikan anak mainan atau gadget mahal tetapi berilah barang yang sesuai dengan kebutuhan anak dalam menunjang aktivitasnya untuk lebih berprestasi).

Dengan melakukan beberapa hal sederhana diatas diyakini akan dapat membantu istri dalam menjalankan peran ganda sebagai Ibu Rumah Tangga dan Sebagai Ibu Bekerja. Selamat Mencoba……”Jadilah Orang Tua Hebat untuk Mewujudkan Generasi yang Hebat Menuju Bangsa yang Hebat”.

Daftar Pustaka:

Sudilah, 2000, Peran Wanita dalam Upaya Memelihara Keharmonisan RT dalam Buku Letters to Karen karya Charlie W. Shedd, Lembaga Penelitian Universitas Terbuka.

Hidayati, F, Kaloeti, DVS, & Karyono, Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak, Semarang, Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.